Desakan Memuncak: Kapolres Belawan Disorot Keras, Kriminalitas Mengganas dan Narkoba Kian Merajalela
ZTV - Tekanan terhadap aparat penegak hukum di wilayah Belawan kian menguat. Praktisi hukum, Helmax Alex Sebastian Tampubolon, melontarkan kritik tajam sekaligus mendesak Whisnu Hermawan Februanto, Kapolda Sumatera Utara, untuk segera mengevaluasi kinerja Rosef Efendi sebagai Kapolres Pelabuhan Belawan.
Desakan ini bukan tanpa alasan. Dalam beberapa waktu terakhir, wajah keamanan di Belawan dinilai kian suram—diwarnai aksi begal, geng motor brutal, hingga peredaran narkoba yang disebut-sebut semakin terbuka dan tak tersentuh.
“Ini bukan lagi sekadar peningkatan kriminalitas, tapi sudah masuk fase darurat keamanan. Korban jiwa terus berjatuhan,” tegas Helmax, Rabu (8/4).
Rentetan peristiwa berdarah yang terjadi hanya dalam hitungan hari menjadi sorotan tajam. Seorang pria tewas mengenaskan setelah diikat dan dianiaya di Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Labuhan. Tak berselang lama, dua penumpang angkot disergap begal di Jalan Yos Sudarso, simpang Kayu Putih, Kecamatan Medan Deli. Bahkan, seorang petugas jaga malam menjadi korban pembacokan oleh kelompok remaja yang diduga geng motor di kawasan Belawan.
Bagi Helmax, deretan kasus ini adalah alarm keras bahwa fungsi pengawasan dan pencegahan tidak berjalan maksimal.
“Di mana patroli? Mengapa kejahatan seperti ini bisa terjadi beruntun tanpa pencegahan? Publik berhak mempertanyakan,” ujarnya dengan nada geram.
Tak hanya soal kriminal jalanan, ia juga menyoroti buruknya respons aparat terhadap potensi konflik sosial. Kasus tawuran di Kelurahan Sicanang yang berujung penjarahan dan perusakan rumah warga disebut sebagai bukti nyata kelambanan tersebut.
“Informasi sudah disampaikan warga sejak awal. Tapi tidak direspons cepat. Akhirnya, konflik meledak dan masyarakat yang menanggung akibatnya,” ungkapnya.
Lebih jauh, Helmax menilai akar persoalan tak lepas dari peredaran narkotika yang semakin liar. Ia menyebut adanya keterkaitan kuat antara aksi kejahatan dengan konsumsi narkoba.
“Uang dari kejahatan kembali diputar untuk membeli sabu dan ganja. Ini lingkaran setan yang terus dibiarkan,” katanya.
Ia bahkan mengungkap bahwa aktivitas narkoba di sejumlah titik sudah seperti rahasia umum. Salah satunya di bantaran Sungai Bederah, Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, yang disebut-sebut menjadi lokasi transaksi terbuka.
“Peredaran sabu di sana seperti tanpa rasa takut. Ini jelas tamparan bagi aparat,” tegasnya.
Dengan situasi yang dinilai semakin tak terkendali, Helmax menegaskan bahwa evaluasi terhadap Kapolres Pelabuhan Belawan tidak bisa lagi ditunda.
“Kapolda Sumut harus bertindak. Penanganan tawuran lemah, pengungkapan kasus minim, sementara masyarakat terus hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Ini kondisi yang tidak bisa dibiarkan,” pungkasnya. (Tim)